Sabtu, 30 Januari 2010

TUGAS MUTU PELAYANAN KEBIDANAN

P -- D -- C -- A __

The "Plan-Do-Check-Act" cycle was first developed in the 1920's by Walter Shewhart, and was popularised later by W. Edwards Deming. For that reason it is often referred to as "The Deming Cycle". Extensive literature exists about the PDCA cycle in numerous languages, and users of the ISO 9000:2000 family of standards are encouraged to consult this for a deeper understanding of the concept.
The PDCA concept is something that is present in all areas of our professional and personal lives, and is used continually, either formally of informally, consciously or sub-consciously in everything we do. Every activity, no matter how simple or how complex, falls into this never-ending pattern:

PDCA  Process Map

Within the context of a quality management system, the PDCA is a dynamic cycle that can be deployed within each of the organization's processes, and to the system of processes as a whole. It is intimately associated with the planning, implementation, control and continual improvement of both product realization and other quality management system processes.

Maintaining and continually improving the process capability can be achieved by applying the PDCA concept at all levels within the organization. This applies equally to high-level strategic processes, such as quality management system planning, or management review, and to simple operational activities carried out as a part of product realization processes.

The Note in Clause 0.2 of ISO 9001:2000 explains that the PDCA cycle applies to processes as follows:

Plan establish the objectives and processes necessary to deliver results in accordance with customer requirements and the organization's policies;
Do implement the processes;
Check monitor and measure processes and product against policies, objectives and requirements for the product and report the results;
Act take actions to continually improve process performance;

PDCA approach applied to process.

HISPRUNG

HISPRUNG

Sinonim:
megakolon kongenital

Definisi:
kelainan kongenital akibat tidak adanya sel-sel ganglion submukosa dan pleksus mienterikus dari intestinal distal.

Insiden:
biasanya dialami 1 dari 5000 kelahiran hidup.

Rasio:
pria:wanita = 3,8:1
(jadi lebih sering pada pria)

Penyebab:
1. Tidak adanya sel ganglion di dalam dinding usus.
2. Kegagalan migrasi sel-sel puncak neural embrionik ke dinding usus.
3. Kegagalan pleksus mienterikus dan submukosa untuk bergerak ke kraniokaudal dalam dinding usus tersebut.

Manifestasi Klinis:
1. Gagal mengeluarkan mekonium dalam 24 jam pertama (± 94%) atau dalam 48 jam pertama (± 57%)
2. Muntah-muntah
3. Distensi abdomen (perut tegang)
4. Diare
5. Beberapa diantaranya disertai perforasi apendiks atau kolon
6. Beberapa penderita mengalami retensi urin, hidroureter, hidronefrosis akibat kompresi ureter.

Pemeriksaan Fisik:
1. Distensi abdomen (± 83%)
2. Pada pemeriksaan rektum dengan jari:
a. bila segmen yang aganglioner panjang, maka akan didapatkan rektum yang kosong.
b. bila segmen yang aganglioner pendek, maka feses akan tertahan pada rektum.

Penegakan Diagnosis:
1. Pemeriksaan radiologis A-P: ansa usus melebar.
2. Enema barium: terlihat perubahan kaliber usus yang mendadak diantara usus berganglion dengan aganglion, kolon proksimal menebal, tampak kontraksi-kontraksi “mata gergaji” tidak teratur pada segmen aganglionik, serta gagal mengeluarkan barium.
3. Manometri anal: terdapat kenaikan tekanan sfingter ani internus.
4. Biopsi rektum: tidak ada sel-sel ganglion pada mienterikus (plexus Auerbach) dan submukosa (plexus Meissner). Cara ini dapat dipakai untuk memastikan diagnosis penyakit Hirschsprung.
5. Pengecatan histokimia: dengan metode isapan rektum atau biopsi forsep untuk asetilkolinesterase.

Penatalaksanaan:
1. Bedah Laparotomi.
2. Perbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit terutama bila terjadi enterokolitis.

Komorbiditas:
Hirschsprung sering disertai kelainan atau penyakit:
1. Atresia duodenum
2. Atresia kolon
3. Hernia inguinal
4. Mikrosefali
5. Palatoskisis (sumbing langit-langit di rongga mulut)
6. Sindrom Down
7. Stenosis rektum dan anus
8. Tuli

Diagnosis Banding:
1.Meconium plug syndrome
2.Microcolon
3.Hipotiroidisme
4.Sepsis
5.Fibrosis kistik
6.Displasia neuronal

Prognosis:
1. Tindakan pembedahan dapat menahan pengeluaran tinja.
2. Beberapa tahun penderita dapat mengalami inkontinensia yang terputus-putus disertai diare.

Catatan:
Enterocolitis merupakan inflamasi atau radang intestinal (usus) yang dapat terjadi pada anak-anak dengan Hirschsprung bahkan setelah operasi selesai dilakukan. Tanda-tanda enterocolitis antara lain: diare, perut membuncit (abdominal swelling), demam, muntah, dan mengantuk (lethargy). Kelainan ini dapat menjadi serius dan memerlukan perawatan di rumah sakit, antibiotik, dan irigasi kolon.

hisprung

CAFRITZ AND GREENBERG Annals of Surgery

regurgitated. A Miller-Abbott tube was passed into the duodenum on the 5th postoperative
day, but could not be advanced beyond this point. Oral feedings were again not retained.
Nothing was passed per rectum. The patient lost weight and her clinical course moved
steadily downhill.
On the ioth day of life a second laparotonlj was performed under open drop ether
anesthesia. At this time a catheter was passed rectally and it extended through the
anastomosis and into the ileum. The ileal dilatation was observed to have decreased in
size at this time. In handling the bowel a rent was accidentally made in the colon, and
fecal material escaped into the peritoneal cavity.
CONGENITAL MICROCOLON AND
PORTION OF ILEUM WITH YOLK SAC
The postoperative course was stormy; there were frequent emeses; and repeated
episodes of dyspnea and cyanosis supervened. The patient expired on her i8th day of life.
Autopsy Findings. The body is that of a poorly nourished and poorly developed white
female infant. The skin and sclerae are moderately jaundiced. Right rectus incision
8-9 cm. in length near the midline and a second, smaller incision to the left of the umbilicus
containing a "cigarette" drain, which exude a slight quantity of purulent material.
Heart weighs 30 Gm. (normal I9 Gm.) but valvular and myocardial measurements
are normal. Lungs are grossly normal except for a few atalectatic patches. Brain shows
engorgement of blood vessels, but otherwise normal.

CONGENITAL MICROCOLON

The small intestine is greatly distended with air and fecal material, and is covered
with a patchy, yellowish exudate. The loops are tightly adherent, and multiple adhesions
to the abdominal wall and abdominal organs are present. The wall of the third part of
the duodenum appears gangrenous (probably caused by the mercury bulb of the Miller-
Abbott tube), and its external surface is covered with thick, yellowish exudate. The
ileocolostomy appears secure and functional. The underdeveloped terminal ileum measures
i6 cm. to its cecal attachment, but is only 0.5 cm. in width. The lumen is patent.
The ascending and transverse colon appear normal in length, but measure only o.6 cm. in
width. The descending and sigmoid colon measure I.2 cm. in width. A normal appearing
rectum admits a finger easily. The mucosa of the entire intestinal tract is dark red.
The liver is enlarged and weighs 222 Gm. (normal I23 Gm.). Surface and cut
sections appear icteric. Histologically, hepatic lobules are compressed and individual
cells show atrophic changes.
Left adrenal is twice the size of the right, and has convex and bulging surfaces. Cut
sections reveal a pale, necrotic, cheesy material distending the medulla and compressing
the cortex.
The right kidney weighs I8.3 Gm. (normal I5 Gm.), and the left I9.5 Gm. The cut
surfaces show diffuse congestion, but cortical and medullary boundaries are readily
distinguishable. Histologically, the tubular epithelium displays marked degenerative
changes.
Cultures of brain and heart blood exhibit bacterial contamination. E. coli hemolytica
grown from peritoneal fluid.
Pathologic Diagnosis: Peritonitis, ileocolostomy, hypoplasia and stenosis of terminal
ileum, stenosis of entire colon, passive congestion of liver, cerebral congestion, jaundice.

Cara Menentukan Masa Subur (1)

Cara Menentukan Masa Subur Wanita Dewasa

Definisi dan pengertian

Masa subur adalah suatu masa dalam siklus menstruasi perempuan dimana terdapat sel telur yang matang yang siap dibuahi, sehingga bila perempuan tersebut melakukan hubungan seksual maka dimungkinkan terjadi kehamilan.

Siklus menstruasi dipengaruhi oleh hormon seks perempuan yaitu esterogen dan progesteron. Hormon-hormon ini menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh perempuan yang dapat dilihat melalui beberapa indikator klinis seperti:

1. Perubahan suhu basal tubuh
2. Perubahan sekresi lendir leher rahim (serviks)
3. Perubahan pada serviks
4. Panjangnya siklus menstruasi (metode kalender)
5. Indikator minor kesuburan seperti nyeri perut dan perubahan payudara.


Indikator pertama- perubahan suhu

Peningkatan suhu menunjukkan adanya ovulasi. Peningkatan suhu yang menetap selama 3 hari mengindikasikan 48 jam setelah ovulasi dan menandakan dimulaiya fase tidak subur setelah ovulasi. Peningkatan suhu ini sekitar 0,2 ˚C atau lebih.

Pembacaan suhu tidak dapat menentukan dimulainya masa subur, sehingga tidak bisa digunakan untuk menentukan waktu yang tepat melakukan hubungan seksual untuk mendapatkan kehamilan.

Cara untuk menggunakan indikator pertama ini adalah:

1. Suhu diukur segera setelah bangun tidur sebelum bangkit dari tempat tidur dan melakukan aktivitas lainnya serta dilakukan lebih kurang pada waktu yang sama.

2. Waktu pengukuran yang bervariasi lebih dari 1 jam, harus dicatat.

3. Suhu diukur lewat mulut, vagina, atau anus.

a. Mulut. Ujung perak termometer diletakkan di bawah lidah dengan bibir tertutup selama lebih kurang 5 menit.

b. Vagina. Termometer dimasukkan ke vagina secara perlahan. Waktu pencatatan lebih kurang 3 menit.

c. Anus. Dengan menggunakan jelly atau vaselin yang dioleskan di ujung termometer, termometer dimasukkan ke anus dengan perlahan, dengan posisi berbaring pada salah satu sisi dan lutut ditarik ke atas. Waktu pencatatan lebih kurang 3 menit.

4. Untuk akurasi, bila salah satu metode telah dipilih untuk digunakan, maka sebaiknya tidak diganti sampai dengan siklus berikutnya.

5. Grafik dibuat dengan menggambarkan hasil pembacaan suhu dengan sebuah titik pada lokasi yang sesuai. Titik-titik ini kemudian dihubungkan untuk membentuk sebuah grafik. Jika terjadi kelupaan pengukuran, titik-titik tersebut tidak boleh disambung.

a. Termometer manual – jika air raksa berhenti di antara dua angka, angka yang terendah yang dicatat.

b. Termometer digital – hanya mencatat satu angka desimal

6. Termometer sebaiknya dibersihkan dengan kapas dan air dingin

7. Grafik baru dimulai pada hari pertama menstruasi. Jika menstruasi mulai pada siang hari, hasil pengukuran pada pagi harinya dipindahkan pada grafik yang baru.

8. Segala sesuatu yang tidak biasa seperti demam, tidur larut, kondisi sedang stress sebaiknya dicatat.

9. Sebaiknya memiliki dua buah termometer, untuk mengantisipasi bila termometernya pecah.

Indikator Kedua – Perubahan Lendir Serviks

Perubahan lendir serviks dapat diamati melalui vulva (alat kelamin luar) dan dicatat setiap hari. Perubahan lendir dapat juga diamati pada serviks dimana lendir tersebut akan muncul sehari sebelum muncul di vulva. Perubahan ini mungkin dikaburkan dengan adanya cairan sperma, spermisida atau infeksi vagina. Lendir serviks ini dapat dikenali dengan rasa/sensasi, penampakan, dan tes dengan jari tangan.

Sensasi
Sensasi sangat penting dan sering merupakan hal tersulit untuk dipelajari. Ada atau tidaknya lendir dikenali dengan sensasi pada vulva. Sensasi mungkin merupakan rasa yang jelas tentang kering, lembab, lengket, basah, licin, atau lubrikasi

Penampakan
Kertas tisu putih dan lembut diusapkan pada vulva. Tisu akan basah dan bila ada lendir serviks, lendir akan terlihat menggumpal pada tisu. Warna lendir dicatat, mungkin berwarna putih, krem, buram, atau transparan. Lendir sering terlihat pula pada celana dalam, dalam kondisi kering sehingga karakteristiknya telah berubah

Tes Jari
Tes ini dapat dilakukan pada lendir yang terdapat di atas tisu dengan cara mengambil lendir tersebut dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari. Dengan perlahan, jari telunjuk ditarik, untuk melihat elastisitas lendir. Lendir mungkin elastis, atau mudah pecah, atau lembut, licin seperti putih telur yang mentah. Elastisitas ini dikenal dengan nama efek Spin dan menunjukkan bahwa lendir subur.

Perubahan lendir serviks selama siklus mentruasi

Fase tidak subur sebelum ovulasi
Setelah menstruasi, dalam beberapa hari vulva dalam kondisi kering. Fase ini mungkin tidak ada bila siklusnya pendek dan akan panjang bila siklusnya panjang. Sensasi kering di vulva dan biasanya tidak ditemukan lendir.

Fase subur
Ketika esterogen meningkat, lendir serviks dapat dirasakan pada vulva. Pada mulanya akan memberikan sensasi lembab dan akan terdapat sejumlah kecil lendir yang berwarna putih atau krem. Pada tes dengan jari, lendir cenderung mempertahankan bentuk dan mudah pecah.

Pada fase transisi, jumlah lendir meningkat dan lendir dengan warna seperti awan dapat dilihat. Elastisitas rendah dan menimbulkan sensasi basah.
Pada saat mendekati ovulasi, lendir makin banyak dan mungkin jumlahnya bisa 10 kali lipat. Ini memberikan sensasi licin pada vulva. Penampakan seperti putih telur yang mentah, tipis, berair, dan transparan. Pada tes dengan jari, lendir yang sangat subur ini dapat ditarik sampai beberapa cm sebelum pecah.
Lendir yang subur menjaga kehidupan sperma, memberinya makan dan membiarkannya melalui serviks. Pada lendir ini, sperma dapat hidup sampai dengan 3 hari, bahkan pada kasus yang jarang dapat hidup sampai dengan 5 hari atau lebih.

Hari puncak
Hari puncak menunjukkan hari terakhir dimana lendir yang elastis, transparan terlihat atau dirasakan.

Fase tidak subur setelah ovulasi
Selama fase setelah ovulasi, setelah hari puncak, sensasi licin menghilang dan secara tiba-tiba kembali ke kering lagi.

Indikator ketiga – perubahan pada serviks

Pengamatan pada serviks akan memberikan tambahan informasi dan sangat berguna bagi yang mempunyai siklus panjang, selama menyusui atau pada masa sebelum menopause. Perubahan pertama pada serviks sering terjadi satu atau dua hari sebelum perubahan pada lendir serviks dan dapat memberikan tanda awal sebelum masa subur. Pada umumnya memerlukan waktu dua atau tiga siklus agar dapat secara akurat mengenali perubahan panjang, posisi, konsistens, dan terbukanya serviks.

Perubahan pada serviks sebagai berikut:

1. selama fase tidak subur sebelum ovulasi, serviks terletak rendah dalam vagina dan mudah dicapai oleh ujung jari.
• Serviks panjang, miring, dan menempel pada dinding vagina

• Terasa kaku, seperti ujung hidung.
• Mulut serviks tertutup, memberikan sensasi seperti lesung pipi ketika disentuh, dan terasa kering

2. Selama masa subur, serviks naik ke atas dalam vagina.
• Serviks memendek, lurus, dan terletak di tengah vagina.
• Sulit disentuh. Jika teraba terasa lembu seperti meraba bibir bawah.
• Mulut serviks terbuka, sehingga dapat masuk ujung jari.
• Terasa basah dan terdapat lendir.

3. Fase tidak subur setelah ovulasi, serviks akan kembali ke kondisi tidak subur dalam waktu 24– 48 jam


Memeriksa Serviks Sendiri

Perubahan serviks dapat dirasakan oleh ujung jari. Sentuhan yang lembut diperlukan untuk mengenali perubahan serviks dari hari ke hari. Serviks sebaiknya diperiksa setiap hari pada waktu yang sama, misalnya sembari mandi pagi. Sebelum memeriksa, kandung kemih harus kosong (buang air kecil terlebih dahulu). Setiap kali pemeriksaan sebaiknya menggunakan posisi yang sama, baik berdiri dengan satu kaki dinaikkan (misal pada ditumpukan pada sisi bak mandi) atau jongkok. Tangan dicuci bersih dengan menggunakan sabun dan dikeringkan (kuku tangan harus pendek). Jika memungkinkan menggunakan sarung tangan yang telah disucihamakan. Jari telunjuk tangan kanan secara perlahan dimasukkan dalam vagina sampai teraba serviks.

Pada perabaan serviks terasa bola licin yang berlekuk, sedangkan vagina akan teraba lembut, lembab, dan berlekuk-lekuk. Jika serviks sulit dicapai, rahim dapat didorong ke bawah dengan menekan perut bagian bawah sedikit tulang pubis dengan tangan kiri. Dengan pengalaman, pemeriksaan hanya memakan waktu beberapa detik.

SAKIT KEPALA / MIGRAIN

Apakah sakit kepala migren itu?

Sakit kepala migren merupakan salah satu bentuk sakit kepala yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah. Sakit kepala migren disebabkan oleh terjadinya suatu kombinasi antara vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan dilepaskannya suatu zat kimia dari serat – serat saraf yang menyelimuti pembuluh darah tersebut. Saat migren menyerang, arteri temporal (arteri yang berjalan disekitar pelipis) akan melebar. Pelebaran ini akan menyebabkan terjadinya peregangan pada serat saraf disekitar arteri sehingga merangsang serat saraf ini melepaskan zat kimia. Zat ini akan menyebabkan terjadinya peradangan, dan rasa sakit yang luar biasa.

Serangan migren umumnya akan mengaktifkan saraf simpatis. Yang dimaksud dengan saraf simpatis adalah saraf yang menjadi bagian dari sistem saraf manusia yang bertugas untuk mengendalikan respon tubuh terhadap stress dan nyeri. Peningkatan aktifitas saraf simpatis pada usus akan menyebabkan rasa mual, muntah dan diare. Aktifitas simpatis juga akan menyebabkan lambatnya pengosongan lambung yang mengakibatkan penyaluran obat ke usus halus untuk diserap juga akan terhambat. Hambatan penyerapan obat inilah yang menjadi masalah bagi penderita migren bila diberikan obat secara oral. Peningkatan aktifitas simpatis juga akan menurunkan aliran darah sehingga kulit akan tampak pucat dan dingin. Peningkatan aktifitas saraf ini juga akan menyebabkan terjadinya peningkatan sensitifitas terhadap cahaya dan suara.

Apa saja gejala migren?

Migren merupakan suatu kondisi yang khronis dan kumat kumatan. Sebagian besar serangan migren juga disertai dengan sakit kepala yang lain. Sakit kepala migren sering digambarkan sebagai sebuah sakit kepala yang hebat, berdenyut dan menyerang kepala pada satu sisi. Kadang kadang sakit dirasakan di dahi, sekitar mata dan dibelakang kepala sehingga mengaburkan gejala dengan sakit kepala yang lain. Walau sebagian besar migren menyerang pada satu sisi kepala, namun sering juga dijumpai gejala migren pada kedua sisi kepala. Sisi kepala yang terserang migren pun sering bergantian pada setiap kali serangan. Hati hati bila sisi kepala yang terserang selalu sama, kemungkinan lain adalah terjadinya suatu tumor otak. Penderita migren sering tersiksa dalam melakukan aktifitas sehari hari terutama saat serangan terjadi. Gejala lain yang menyertai migren antara lain, mual, muntah, diare, wajah pucat, kaki tangan dingin, serta penderita akan sensitif terhadap cahaya dan suara. Akibat terjadinya peningkatan sensitifitas terhadap cahaya dan suara maka penderita migren harus berbaring di ruangan yang sepi dan gelap. Serangan migren biasanya akan mereda dalam 4 sampai 72 jam.

Sekitar 40%-60% dari serangan migren akan diawali oleh apa yang dinamakan gejala pendahuluan. Gejala ini antara lain berupa gangguan tidur, gelisah, kelelahan, depresi, keinginan untuk menyantap makanan manis dan asin. Gejala awal ini biasanya sudah bisa dipahami oleh keluarga penderita sebagai suatu gejala pendahuluan sebelum terjadinya serangan migren.

Sekitar 20% dari serangan migren akan disertai dengan aura. Biasanya aura ini akan muncul mendahului sakit kepala, namun tidak sedikit pula yang munculnya bersamaan dengan sakit kepala. Aura yang paling sering muncul adalah 1) Munculnya cahaya berwarna yang berkedip membentuk pola zigzag yang muncul mulai dari tengah tengah lapang pandang yang selanjutnya mengarah ke bagian luar. 2) Sebuah lubang (scotoma) pada lapang pandang, yang sering juga disebut bintik buta. Beberapa orang yang sudah sangat sering terserang migren, hanya akan merasakan munculnya aura tanpa terserang sakit kepala. Aura – aura yang lain, rasa seperti tertusuk ujung jarum pada tangan dan sekitar mulut, halusinasi suara, dan rasa kecap/bau yang berkurang.

Komplikasi migren biasanya disertai oleh gangguan saraf. Bagian tubuh yang terkena gangguan saraf akan menggambarkan bagian otak yang bertanggung jawab terhadap munculnya migren. Sekitar 24 jam setelah serangan migren, pasien akan merasakan kehabisan tenaga dan masih merasakan sakit kepala dalam derajat ringan.

Bagaimana mendiagnosa migren?

Sakit kepala migren biasanya didiagnosa berdasarkan atas gejala seperti yang telah dibahas sebelumnya. Gejala migren sudah mulai dirasakan pasien sejak masa kanak kanak berlanjut hingga dewasa. Migren yang baru muncul pada usia diatas 50 tahun, dapat dipikirkan sebagai suatu kelainan lain sehingga memerlukan pemeriksaan lebih seksama. Pada beberapa kasus ditemukan ada hubungan antara migren dengan faktor keturunan.

Pasien dengan keluhan sakit kepala yang luar biasa untuk pertama kalinya, disertai dengan gangguan saraf seperti gangguan pendengaran dan penglihatan, maka pada pasien tersebut perlu dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah lengkap, CT Scan dan analisa cairan spinal.

Bagaimana mengobati migren?

Pengobatan migren dilakukan dengan dua cara yaitu tanpa obat dan dengan obat.

Ø Pengobatan migren tanpa obat.

Pengobatan tanpa obat biasanya dilakukan untuk meringankan gejala migren dan untuk pencegahan. Relaksasi dipercaya mampu mencegah timbulnya serangan migren bila dilakukan saat gejala pendahuluan. Jika memungkinkan, tidur merupakan obat yang paling mujarab. Untuk mencegah timbulnya migren, pasien dapat dimotivasi untuk mengubah pola hidup yang selama ini dicurigai dapat mencetuskan timbulnya migren. Hal ini termasuk menghentikan kebiasaan merokok, menghindari makanan yang banyak mengandung tiramin seperti keju, hindari pula makanan yang mengandung nitrat tinggi seperti kacang kacangan. Selain itu harus segera melakukan apa yang disebut pola hidup sehat seperti makan makanan yang bergizi, minum yang cukup, tidur yang cukup, dan olah raga yang teratur.


Ø Pengobatan migren dengan obat.

Penderita migren yang ketika serangan terjadi tidak terlalu mempengaruhi aktifitasnya sehari hari cukup diberikan obat penghilang nyeri (analgetik) yang banyak dijual di warung warung. Walaupun demikian, penggunaan obat ini harus selalu memperhatikan aturan pakai yang tertera di bungkus obat tersebut guna mencegah hal hal yang tidak diingini.

Terdapat dua golongan obat analgetik yang umum digunakan yaitu Acetaminophen (Paracetamol) dan NSAID atau Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs. Obat NSAID dibagi lagi menjadi dua jenis yaitu aspirin dan non-aspirin. Yang termasuk ke dalam golongan NSAID non-aspirin antara lain ibuprofen dan naproxen. Beberapa jenis dari obat NSAID ini dapat diperoleh dengan menggunakan resep dokter. Selain untuk migren, obat NSAID juga digunakan untuk mengobati radang sendi, radang tendon dan lain lain.

Acetaminophen atau paracetamol bekerja di pusat nyeri otak untuk mengurangi rasa nyeri dan demam. Acetaminophen mempunyai efek samping yang sangat minim terutama pada lambung bila dibandingkan dengan obat NSAID. Meskipun demikian, bila digunakan secara serampangan dan melebihi dosis yang dianjurkan, acetaminophen dapat menyebabkan kerusakan hati yang lumayan berat. Pada pasien yang suka minum alkohol, acetaminophen dapat menyebabkan kerusakan hati walau diberikan pada dosis yang rendah. Kesimpulannya, selalulah membaca aturan pakai obat yang tertera di label obat untuk mencegah keracunan atau kelebihan dosis.

Obat NSAID mengurangi nyeri dengan cara mengobati reaksi inflamasi yang menyebabkan terjadinya nyeri. Obat ini disebut non steroid karena memang berbeda dari obat steroid walaupun sama sama mempunyai efek mencegah terjadinya reaksi inflamasi. Obat obat yang termasuk ke dalam golongan steroid (kortikosteroid) tidak dipergunakan karena mempunyai efek samping yang kurang bagus bila digunakan dalam jangka waktu yang lama. Efek samping ini tidak ditemukan pada obat NSAID.

Untuk mengobati sakit kepala, beberapa dokter menggunakan kombinasi antara aspirin, acetaminophen, dan kafein. Ketiga obat ini mempunyai efek sinergis untuk meringankan gejala sakit kepala.

Guna mendapatkan obat yang pas, terkadang dokter melakukan proses apa yang dinamakan trial and error. Hal ini disebabkan oleh karena sangat bervariasinya respon individu terhadap jenis obat yang diberikan. Banyak faktor yang mempengaruhi respon ini, nanti akan saya bahas di artikel yang lain.


Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memberikan analgetik :

  • Untuk mengobati sakit kepala pada anak anak dan remaja, hindari pemberian aspirin sebab ditakutkan bisa terjadi Sindroma Reye, suatu kelainan neurologis berupa kesadaran menurun yang dapat menyebabkan kematian.
  • Hindari pemberian aspirin pada pasien dengan gangguan keseimbangan dan gangguan lain pada telinga, karena aspirin dapat memperburuk keadaan.
  • Pasien yang sedang menjalani pengobatan dengan obat pengencer darah seperti warfarin, tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi NSAID tanpa pengawasan dokter sebab pasien ini mempunyai resiko perdarahan.
  • Obat NSAID juga tidak boleh diberikan pada pasien dengan gejala maag atau gangguan lambung sebab NSAID akan memperparah keadaanya.
  • Hindari pemberian obat NSAID pada pasien dengan penyakit hati sebab obat NSAID akan menganggu pula fungsi ginjalnya. Bila fungsi ginjal terganggu maka akan menambah kerusakan hati yang terjadi.

Apa obat untuk migren yang berat?

Bila pengobatan dengan obat obat analgetik diatas gagal maka dapat disimpulkan pasien menderita suatu migren yang berat. Pengobatan migren berat tidak bisa hanya mengandalkan penggunaan analgetik, perlu dilakukan pengobatan terhadap hal hal yang menjadi penyebab terjadinya migren seperti memperbaiki fungsi dari arteri temporal. Beberapa obat yang termasuk golongan ini yaitu tripans dan ergotamine.


Adakah obat lain untuk mengobati migren?

Beberapa dokter ada yang menggunakan narkotika dan obat obatan psikotropika untuk mengobati migren, namun pengobatan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan secara rutin karena menimbulkan efek samping berupa ketergantungan. Pengobatan ini digunakan bila penggunaan obat-obatan anti migren seperti yang telah dibahas pada bagian sebelumnya tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Penggunaan obat ini dilarang keras pada penderita yang sedang hamil serta pasien yang mempunyai resiko penyakit jantung dan stroke.


Bagaimana mencegah terjadinya migren?

Ada dua cara untuk mencegah timbulnya migren :

1. Hindari faktor pencetus timbulnya migren.

2. Memberikan obat pencegahan sebelum timbulnya sakit kepala.

Tidak ada satupun dari cara ini yang benar benar 100% efektif, tetapi sedikit banyak akan mampu untuk mengurangi frekuensi timbulnya migren.


Apa saja pencetus migren?

Pencetus migren adalah faktor faktor yang secara individual dapat mencetuskan terjadinya migren. Sayangnya hanya beberapa saja dari penderita migren yang dapat mengidentifikasi faktor pencetus terjadinya migren. Beberapa contoh faktor pencetus migren adalah, stress, gangguan tidur, puasa, hormonal, cahaya berkedip dan sangat terang, wangi wangian, merokok, alkohol, keju basi, cokelat, penyedap masakan, asam asaman, pemanis buatan, dan kafein. Pada wanita, penurunan kadar hormon estrogen dalam darah saat menstruasi juga bisa sebagai faktor pencetus migren. Rentang waktu antara masuknya faktor pencetus sampai timbulnya gejala migren yaitu antara sejaman sampai dua harian.

Tidur dan migren

Gangguan mekanisme tidur seperti tidur terlalu lama, kurang tidur, sering terjaga tengah malam, sangat erat hubungannya dengan migren dan sakit kepala tegang, sehingga perbaikan dari mekanisme tidur ini akan sangat membantu untuk mengurangi frekuensi timbulnya migren. Tidur yang baik juga dilaporkan dapat memperpendek durasi serangan migren.

Puasa dan migren

Puasa dapat mencetuskan terjadinya migren oleh karena saat puasa terjadi pelepasan hormon yang berhubungan dengan stress dan penurunan kadar gula darah. Hal ini menyebabkan penderita migren tidak dianjurkan untuk berpuasa dalam jangka waktu yang lama.

Cahaya terang dan migren

Cahaya yang terlalu terang dan intensitas perangsangan visual yang terlalu tinggi akan menyebabkan sakit kepala pada manusia normal. Mekanisme ini juga berlaku untuk penderita migren yang memiliki kepekaan cahaya yang lebih tinggi daripada manusia normal. Sinar matahari, televisi dan lampu disko dilaporkan sebagai sumber cahaya yang menjadi faktor pencetus migren.

Kafein dan migren

Kafein terkandung dalam banyak produk makanan seperti minuman ringan, teh, cokelat, dan kopi. Kafein dalam jumlah sedikit akan meningkatkan kewaspadaan dan tenaga, namun bila diminum dalam dosis yang tinggi akan menyebabkan gangguan tidur, lekas marah, cemas dan sakit kepala.

Cokelat, anggur, tiramin, MSG, aspartam dan migren

Cokelat dilaporkan sebagai salah satu penyebab terjadinya migren, namun hal ini dibantah oleh beberapa studi lainnya yang mengatakan tidak ada hubungan antara cokelat dan sakit kepala migren. Anggur merah dipercaya sebagai pencetus terjadinya migren, namun belum ada cukup bukti yang mengatakan bahwa anggur putih juga bisa menyebabkan migren. Tiramin (bahan kimia yang terdapat dalam keju, anggur, bir, sosis, dan acar) dapat mencetuskan terjadinya migren, tetapi tidak terdapat bukti jika mengkonsumsi tiramin dalam jumlah kecil akan menurunkan frekuensi serangan migren. Penyedap masakan atau MSG dilaporkan dapat menyebabkan sakit kepala, kemerahan pada wajah, berkeringat dan berdebar debar jika dikonsumsi dalam jumlah yang besar pada saat perut kosong. Fenomena ini biasa disebut Chinese restaurant syndrome. Aspartam atau pemanis buatan yang banyak dijumpai pada minuman diet dan makanan ringan, dapat menjadi pencetus migren bila dimakan dalam jumlah besar dan jangka waktu yang lama.

Hormon kewanitaan dan migren

Beberapa wanita yang menderita migren merasakan frekuensi serangan akan meningkat saat masa menstruasi. Bahkan ada diantaranya yang hanya merasakan serangan migren pada saat menstruasi. Istilah ‘menstrual migraine’ sering digunakan untuk menyebut migren yang terjadi pada wanita saat dua hari sebelum menstruasi dan sehari setelahnya. Penurunan kadar estrogen dalam darah menjadi biang keladi terjadinya migren.


Apa yang harus dilakukan penderita migren?

Individu yang menderita migren ringan dan jarang kambuh cukup meminum obat analgetik biasa. Sedangkan individu yang sering mengalami migren berat dan respon terhadap obat obatan juga rendah maka individu tersebut harus menghindari faktor pencetus dari migrennya dan memantapkan diri untuk mengubah gaya hidup.

Perubahan gaya hidup untuk penderita migren antara lain :

  • Berangkat tidur dan bangun pagi pada waktu yang sama tiap hari.
  • Olah raga teratur. Buatlah komitmen untuk selalu berolah raga baik saat santai maupun saat sibuk bekerja di kantor. Olah raga dapat memperbaiki kualitas tidur dan menurunkan frekuensi migren. Lakukan peningkatan olah raga secara bertahap. Olah raga yang terlalu keras sehingga tubuh kelelahan justru akan memicu terjadinya sakit kepala migren.
  • Jangan menunda makan dan hindari puasa yang lama.
  • Kurangi stress dengan teknik relaksasi.
  • Batasi konsumsi kafein.
  • Hindari cahaya terang dan berkedip. Gunakan kacamata hitam saat berada dibawah sinar matahari.

Senin, 28 Desember 2009

Welcome, Sugeng Rawuh...

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat datang buat para pengunjung blog saya. Blog yang dengan sengaja saya buat untuk membuka pikiran saya dan para pembaca semuanya. Mengapa hal demikian yang menjadi tujuan saya dalam membuat blog ini? Hal itu dikarenakan bukan hal yang WAH ato prestisius bila seseorang dapat membuat Blog. 

Akan tetapi, dengan adanya blog, saya berharap mendapatkan pemikiran-pemikiran baru dari para teman-teman semua yang kiranya sudi membagi pengetahuannya untuk teman-teman yang lainnya.

Tetap semangat dan selalu...Open Your Mind.....Sukses buat kita semuanya...AMIN....!!!

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.